KARAWANG, WWNews – Di tengah hiruk-pikuk deru mesin industri di koridor Bekasi-Karawang-Purwakarta (Bekapur), sebuah pemandangan kontras tersaji di Aula Husni Hamid, Karawang. Lebih dari 1.000 jurnalis yang biasanya terfragmentasi dalam berbagai organisasi, melebur dalam satu meja silaturahmi akbar pada momentum 10 hari terakhir Ramadhan 1447 Hijriyah, Rabu (11/03/2026).
Acara yang dibalut dengan buka puasa bersama dan tausiyah ini bukan sekadar seremoni musiman. Di balik gelak tawa dan hidangan takjil, tersirat sebuah kritik tajam terhadap marwah profesi yang belakangan ini kerap diuji oleh kepentingan pragmatis.
Jurnalisme: Antara Ibadah dan Tuduhan “Cari Aib”
Kritik paling tajam datang dari Sekretaris I MUI Karawang, H. Yayan Sopian, S.Ag. Dalam orasinya yang menggema di seluruh aula, ia menyentil fenomena wartawan yang kehilangan orientasi moral.
“Jika niat kalian keluar rumah hanya untuk mencari-cari aib orang tanpa niat memperbaiki keadaan, maka itu bukan ibadah. Tapi, jika pena kalian digunakan untuk amar ma’ruf nahi mungkar—mencegah kemungkaran pejabat dan membela kebenaran—maka deposito amal kalian jauh lebih besar dari seorang ustaz,” tegas Yayan di hadapan ribuan awak media.
Pernyataan ini seolah menjadi tamparan sekaligus alarm bagi insan pers di wilayah Bekapur agar tidak terjebak menjadi “alat” pemuas kepentingan kelompok tertentu, melainkan kembali ke fungsi kontrol sosial yang hakiki.
Soliditas di Tengah Hegemoni Industri
Ketua Panitia Silaturahmi Akbar, Doni Ardon, membawa narasi kritis pada aspek kesejahteraan dan independensi. Menurutnya, menjadi ironi jika wartawan di pusat industri terbesar se-Asia Tenggara ini masih hidup di bawah bayang-bayang intimidasi dan ketidakpastian ekonomi.
“Jika faktanya benar, jangan takut diintimidasi oleh siapa pun. Wartawan adalah pencari fakta yang berdaulat,” ujar Doni dengan nada bicara tinggi. Ia juga menekankan bahwa perusahaan media harus lebih cerdas mengelola potensi ekonomi industri di Bekapur agar kesejahteraan wartawan terjamin, sehingga integritas tetap terjaga.
Ujian Soliditas Lintas Bendera
Kehadiran organisasi lintas bendera seperti SMSI, FWJI, JWI, AMKI, AJIB, MIO, PPWI, GWK, dan lainnya menunjukkan bahwa pers di wilayah penyangga ibu kota ini memiliki kekuatan tawar (bargaining power) yang besar jika bersatu.
Namun, pertanyaannya tetap: Apakah soliditas ini hanya bertahan selama Ramadhan, atau mampu berlanjut menjadi barisan kokoh dalam mengawal transparansi anggaran dan kebijakan publik di Karawang, Bekasi, dan Purwakarta?
Momentum Ramadhan 1447 H ini diharapkan tidak berhenti pada rasa kenyang setelah berbuka, melainkan menjadi titik balik jurnalisme yang lebih bersih, tajam, dan berpihak pada kepentingan rakyat banyak. (Ww)
